Laman

Selasa, 08 November 2016

SEBUAH HARAPAN YANG TERGANTUNG DI ATAS AWAN

SEBUAH HARAPAN YANG TERGANTUNG DI ATAS AWAN
( Sebuah refleksi nurani terhadap realitas kondisi yang tak menentu)
Oleh ; DRS. KASMAD. MPd,I
      Senja pajar menyingsing di pagi yang cerah ,dengan tetesan embun di daun-daun pohon, dengan kabut yang menggumpal di atas awan ,juga mulai terdengar suara burung berkicau yang indah saling bersautan , sang suryapun mulai muncul perlahan sehingga embun pagi mulai bergegas meninggalkan.
      Aku adalah sosok anak bangsa yang lahir di bumi pertiwi, yang telah dibekali dengan berbagai bekal ilmu pengetahuan dengan mendapat beberapa helai kertas berharga sebagai tanda penghargaan dan kini aku telah mendapat gelar akademik.
      Aku lihat di depan ada sebuah harapan yang dapat memberikan kepastian  terhadapku, aku akan selalu menunggu dan bersabar seiring dengan berjalannya waktu  yang lama,aku kini mulai merasa gelisah dan tak menentu untuk menggapai sebuah harapan yang ku nantikan.
      Setelah ku merasakan kegelisahan yang tak berkunjung akhirnya ku melihat di sampingku sebelah kanan, ternyata banyak diantara saudara-saudara  kita telah mengarungi kehidupan penuh dengan kegembiraan dan keceriaan,walaupun tak seperti diriku. Mereka memiliki jabatan, hidup penuh dengan harta yang bergelimangan, mobil mewah ia miliki, rumah megah ia tempati,tabungan deposito di bank lebih dari satu M mereka miliki, tapi akhirnya lembaga KPK menjemputnya dan ia sekarang banyak yang hidup dibalik tali jeruji besi.  Semua kehidupan yang mengalami kebahagian di dunia itu adalah semu dan matamorgana yang  bisa mengelabui pandangan mata kita sesaat,dalam benak pikirku.
      Dengan rasa berat dalam hati  aku sengaja melihat di sebelah kiri ku, ternyata banyak saudara saudara kita yang telah melakukan dan terjerumus dalam tindakan a susila, kriminal,obat terlarang dan sebagainya dengan latar belakang kehidupan yang berbeda, mereka merasakan kebahagiaan sesaat yang pada akhirnya mereka akan berurusan dengan yang berwajib dan menyeretnya kedalam kamar bui sebagai ganjarannya.
     Lalu setelah lama kuperhatikan disekitar kelilingku ku coba melihat ke belakang, betapa terkejutnya hatiku tak kuasa menahan rasa iba terhadap saudara-saudaraku yang masih hidup dalam kemiskinan mereka hidup dengan makan nasi atau makanan yang terdapat dari tempat sampah, mereka masih banyak meminta belas kasih dari kita,sehingga ia rela duduk dipinggir jalan yang banyak resiko,lebih menyayat hati banyak anak-anak jalanan dalam usia belajar mereka berada dilampu merah, dan masih banyak lagi saudara saudara kita yang dalam hidup kelaparan sehingga mereka  memasak dengan  nasi bekas.walau bagaimanapun itu adalah saudara-saudara kita.
     Akhirnya ku tertunduk sambil menatapkan wajaku ke  bawah tanah dengan  merenung dan berpikir bahwa semestinya aku bersyukur kepada sang pencipta, yang telah menganugrahkan segala nikmat yang telah ku terima selama ini, terutama nikmat iman dan islam sehingga aku tak boleh mengeluh dan putus asa atas segala Rahmat yang Allah Swt yang telah berikan pada hambanya.
     Dengan segala kerendahan hati dan harapan yang pasti kuserahkan dan  bertawakal kepada Allah Swt, Dzat yang maha Rahman dan Rahim, mulailah kini aku harus berbuat dan berkarya tanpa bergantung dan menjadi beban yang lain  sambil menadahkan tangan menatap keatas langit dan bersujud bertasbih memohon agar dalam kehidupanku mencapai kebahagian baik di dunia dan  Akherat kelak , Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar